Feeds:
Posts
Comments

Memilah yang penting dan yang remeh temeh

Dalam hidup ini, ada hal-hal yang essensial ada yang remeh temeh. Namun klasifikasi ini bisa berbeda untuk orang yang profesinya berbeda. Seorang wartawan sepakbola perlu menghafal nama-nama pemain bola, nomor punggung mereka, posisi mereka di lapangan, dan semua hal yang terkait dengan pemain. Untuk seorang dosen biologi, informasi tentang pemain bola tersebut tidak esensial. Daripada menghafal data pemain bola, lebih baik dosen tsb membaca informasi terbaru di bidang biologi dan pengetahuan lainnya yang terkait.

Memilah mana yang esensial dan mana yang remeh temeh merupakan langkah awal untuk mengurangi beban hidup. Fokuslah pada yang esensial, dan jangan menghabiskan energy dan waktu untuk yang remeh temeh. Misalnya, untuk orang biasa (bukan model atau professional lain yang membutuhkan fashion) esensi pakaian adalah untuk melindungi tubuh dari cuaca buruk dan menutup aurat bagi orang beragama. Mode dan warna tidak esensial, maka jangan sampai kita pusing memikirkannya. Kalau mau ekstrem, kita dapat memilih pakaian sambil pejam mata. Tentu saja, tidak perlu se-ekstrem itu. Kita boleh memperhatikan mode, tetapi jangan sampai mode mengalahkan fungsi, apalagi sampai merepotkan kita.   Continue Reading »

Menyeimbangkan neraca amal
Harga (price) suatu barang tidak selalu mencerminkan nilai (value) yang sesungguhnya dari barang tersebut. Barang paling bernilai bagi kehidupan manusia adalah udara. Jika kita tidak menghirup udara dalam waktu beberapa menit saja, kita akan mati. Namun udara dihargai nol rupiah. Kita tidak dapat menjual udara, kecuali kepada pasien yang memerlukan bantuan pernafasan. Sebaliknya, emas berlian memiliki harga tinggi meskipun nilai sesungguhnya bagi kehidupan manusia sangat rendah. Jika kita tidak memakai emas dan berlian seumur hidup, kesehatan tidak akan terganggu.
Harga jasa juga tidak selalu mencerminkan nilainya yang sesungguhnya. Profesi yang jasanya sangat vital bagi kehidupan manusia adalah petani yang memproduksi makanan kita. Jika kita tidak makan selama satu bulan, kita akan mati. Meski kontribusinya bagi kehidupan manusia sangat tinggi, petani dibayar murah. Kita kurang menghargai jasa petani. Sebaliknya, kita menghargai sangat tinggi jasa penghibur, meskipun jasa mereka tidak esensial bagi kehidupan manusia. Seandainya kita tidak menonton film, tidak mendengarkan music atau tidak menyaksikan komedi selama lima tahun, kita tidak akan jatuh sakit, apalagi meninggal. Kita dapat menghibur diri sendiri dengan membaca, menikmati keindahan alam, mendengar kicauan burung, atau bercanda dengan teman.
Pemberian penghargaan memang tidak adil. Mereka yang memberikan kontribusi esensial bagi kehidupan dibayar rendah, sementara mereka yang kontribusinya tidak esensial malah dibayar mahal. Motivator keuangan sering merayu kita untuk mengikuti seminar mereka yang akan menjadikan kita kaya dengan memanfaatkan ketidak-adilan ini, dengan slogan-slogan, antara lain: kerja cerdas bukan kerja keras (work smart not work hard); biarkan uang anda yang bekerja; menjadi kaya tanpa bekerja. Ada motivator yang mengejek PNS dengan mengatakan: Pegawai negeri memang penghasilannya pasti; pasti kecil.

Continue Reading »

Menjadi orang yang merdeka

Realita yang sesungguhnya dan realita yang ada dalam persepsi kita tidaklah sama. Apalagi,  banyak pihak yang sengaja mengaburkan realita yang sesungguhnya. Partai-partai politik yang sering mengkhianati amanah rakyat membangun citra agar dipersepsikan oleh masyarakat sebagai pihak yang membela rakyat. Perusahaan-perusahaan rokok, yang potensial menghancurkan generasi muda, membangun citra positif melalui iklan menarik dengan menampilkan generasi muda yang kreatif, berani, suka petualangan, sukses, peduli sesama, dst.

Realita yang sesungguhnya tentang produk-produk yang ditawarkan pada konsumen tidak sama dengan citra yang dibangun melalui iklan. Karena lihainya biro periklanan, banyak orang yang terbujuk oleh iklan pencitraan ini. Ada orang yang rela membeli barang-barang mahal agar penampilan dan gaya hidupnya mencitrakan orang yang sukses dan bercitarasa tinggi. Dalam wawancara di TV One, seorang anggota DPR menceritakan bahwa ada anggota DPR lain yang memiliki sebuah jam tangan seharga 250 juta rupiah. Dalam tingkat lebih rendah, banyak PNS yang gajinya pas-pasan terbujuk iklan pencitraan, rela membeli barang-barang yang sebenarnya belum dibutuhkan. Ibu-ibu yang tinggal di kompleks tidak mau ketinggalan dari tetangganya dalam pakaian dan kelengkapan perabotan rumah.

Continue Reading »

Menjalani hidup yang bermakna

Zaman sekarang, bidang profesi yang paling cepat menjanjikan kekayaan adalah entertainment. Tak mengherankan jika Briptu Norman Kamaru memilih menjadi artis daripada menjadi polisi. Honornya sekali manggung bersama artis-artis top ibukota lebih besar daripada gajinya selama setahun sebagai briptu.

Masyarakat saat ini sangat menyukai hiburan. Bintang sinetron, penyanyi dan pelawak menjadi pujaan masyarakat. Oleh karena itu, dalam kampanye pemilu dan pilkada, panitia sering menampilkan artis karena masyarakat akan datang berbondong-bondong untuk menyaksikan sang artis. Mungkin karena tekanan hidup yang keras, masyarakat membutuhkan kegiatan hura-hura (menyanyi, berjoget, berteriak-teriak) untuk melepaskan kepenatan hidup. Continue Reading »

Seminar Nasional HUT Kebun Raya Cibodas Ke-159 ISBN 978-979-99448-6-3 518

An Ethical Aspect of Plant Conservation In Indonesia
Wiryono
Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
wiryonogood@yahoo.com
Abstract

The rapid growth of population In Indonesia has caused extensive conversion of highly diverse natural forests into single species plantations. Most production forest and protection forest which, according to national law, are managed by local government have been extensively damaged. Relatively guarded conservation forest is the last resort for biodiversity conservation. However, lacking conservation ethic, many local government officials and rural community who have no access to this nationally managed forest area often see conservation forest as a hindrance to the economic development. Although in situ and ex situ conservation areas have been established since colonial era, the ethical foundation of conservation, however, has never been widely discussed among general public. Conservation is perceived as the aspiration of the elite group in society.  Some government officials and general public sometimes see conservation values as western ones imposed upon us. Many regents and governors are proposing to the Ministry of Forestry for the conversion of conservation forest into other land use types. In many places, illegal conversion of many conservation forests have occurred. Unless an ethical foundation of conservation is built, it is only a matter of time that even conservation forest will finally succumb to the public and local government pressure for conversion into other land use types. It is, therefore, essential that conservation workers in Indonesia develop conservation ethic suitable for Indonesian society. Religious and traditional teachings must be considered in developing this ethic. Scientists, religious, tribal and political leaders, journalists as well as celebrities must be involved in formulating and socializing conservation ethics.

Keywords: plant conservation, ethics, Indonesia

PENDAHULUAN
Sebagai negara dengan beribu pulau dan memiliki iklim tropis basah, Indonesia sangat kaya akan keragaman hayati, termasuk keragaman flora. Selama ribuan tahun, keragaman hayati di Indonesia telah mendukung keberlangsungan hidup manusia Indonesia. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir keragaman hayati di Indonesia mendapat ancaman dengan rusaknya habitat satwa
dan tumbuhan. Menurunnya keragaman hayati merupakan ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, konservasi keragaman hayati mutlak diperlukan demi keberlangsungan hidup manusia. Continue Reading »

The Jakarta Post

Wiryono, Bengkulu | Mon, 01/03/2011 9:31 AM | Opinion

Environmental problems are not new. Ever since there have been high concentrations of people, areas near crowded human settlements have begun to deteriorate.

The rise of cities in ancient Mesopotamia thousands of years ago caused the salinization of the soil. In the 4th and 3rd centuries BC, Plato wrote detailed descriptions of soil degradation and deforestation in the hills surrounding Greek cities.

Traffic congestion was so bad in ancient Rome that Julius Caesar (100 BC – 44 BC) issued a decree forbidding wheeled vehicles from entering Rome from sunrise until two hours before sunset. Continue Reading »

Wiryono, Queensland | Mon, 12/20/2010 10:23 AM | Opinion. The Jakarta Post 

Several months after President Susilo Bambang Yudhoyono expressed the country’s commitment to cutting carbon emissions by 26 percent in Copenhagen, the Indonesian and Norwegian governments, in May 2010, signed a US$1 billion deal to reduce deforestation and forest degradation in Indonesia.

In November this year, we and another 192 signatory nations to the Convention on Biological Diversity agreed to save biodiversity.

Also in November, we joined 12 other countries in expressing commitment to protecting tigers from extinction. These commitments seem encouraging for the environment. However, many have cast doubt on our seriousness in implementing these promises. Continue Reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.